Catatan Perjalanan Ujung Genteng (3 – 5 Februari 2006)

Catatan Perjalanan ke Ujung Genteng tahun 2006, perjalanan pertama bareng orang lain yang baru gw kenal diperjalanan. Cuma janjian di milis, kemudian kopdar di Senayan, lanjut jalan bareng… harga dan lokasi mungkin sudah berubah, karena sudah 8 tahun yang lalu.. foto-fotonya bisa dilihat di : sini

Tangerang, 6 September 2014

============================================================================

Tanggal 3-5 Februari 2006 Komunitas Backpacker Indonesia bekerja sama dengan situs http://come.to/genteng mengadakan perjalanan ekoturisme ke Ujung Genteng, sebuah lokasi di Selatan Sukabumi.

Matahari sudah menghilang digantikan oleh bulan yang membentuk setengah lingkaran.

Berjalan menyusuri parkir timur senayan, mencari bis pariwisata yang akan mengantar ke ujung genteng. Sampai dilokasi yang dijandjikan sudah ada beberapa orang dan beberapa tas punggung di atas meja. Perkenalan pun dimulai, selain mas aris, ada agung, denni dan nukke.tak lama berselang, secara beruntun datang beberapa peserta lain yang datang dari berbagai penjuru jakarta dengan beraneka macam moda transportasi, ada yang naik taksi, ada yang diantar dgn mobil pribadi, diantar dengan motor dan ada pula yang jalan kaki. Setelah menunjukkan pukul 22.00 ternyata masih ada sekitar 7 orang peserta yang belum juga hadir.

Pukul 22.17 datang beberapa orang dengan membawa backpack di punggung masing-masing. Setelah sedikit berbasa-basi dan saling berkenalan, bis pariwisata berukuran 3/4 pun berangkat sekitar jam 22.45an. Berjalan menyusuri Jalan tol Jagorawi dan menyusuri jalan ke arah Pelabuhan Ratu. Entah karena lelah bekerja atau kenyamanan bus, hampir semua penumpang bus seperti terlelap, kecuali di sekitar Pasar Caringin, dimana perjalanan menjadi terhambat karena jalan yang berlubang. Sekitar pukul 3 dinihari, bis berhenti di sebuah warung makan di tengah perkebunan. Hampir semua penumpang  bus turun, sekedar meluruskan kaki, minum kopi atau pun mampir ke WC. Begitu keluar dari bus, bintang-bintang bertebaran di langit terlihat seperti sangat dekat dan sangat jelas berkilauan…

Bis kemudian bergerak lagi…

Pukul 5.00 bis berhenti, kali ini di depan rumah penduduk. Melihat di layar HP bertuliskan : CIKARANG… sempat kepikiran, kok ke Cikarang ajah lama banget??. Rencananya akan trekking ke curug cikaso, namun kata kang petrus, jembatan menuju curug rusak beberapa hari lalu, karena terpaan angin dan hujan. Setelah shalat subuh di salah satu rumah penduduk dan sedikit meregangkan otot-otot, sekitar jam 6 seluruh peserta  berjalan sekitar 20 meter, menuju sungai cikaso yang saking lebarnya terlihat seperti danau. Begitu sampai di sungai, perasaan takjub segera mengalir… sebuah bukit hijau  terbentang di bagian depan dan di sebelah kanan. Sementara di sebelah kiri nampak bentangan Jembatan Besi kokoh berdiri, sementara sungai nampak mengalir membelok ke sebelah kiri bukit di sebelah kanan.

Ada dua sampan di atas sungai, dengan ukuran lebar sekitar 1,5 m dan panjang sekitar 5 m. Satu persatu peserta menaiki sampan. Setelah semua naik, sekitar 4 orang mendorong sampan ke tengah sungai, setelah terasa mengapung, motor yang menempel di belakang sampan dinyalakan. Sampan diarahkan ke arah kanan mengarah ke perbukitan hijau yang ditanami beraneka pohon besar. Di kejauhan terlihat kalau sungai nampak bercabang dua, sebelah kanan terlihat lebih lebar dibanding yang di sebelah kiri. Kemudian sampan berbelok ke kiri dan  nampak sisa-sisa jembatan bambu yang rusak karena angin beberapa waktu lalu. Sampan berjalan melewati sisa-sisa jembatan tadi menuju cabang sungai yang kecil, di kanan kiri nampak pepohonan menghijau, sempat terlihat burung terbang menyeberangi sungai dari satu pohon ke pohon yang lain. Sepanjang sungai kecil tersebut samar-samar suara burung terdengar bercicitan.

Setelah berjalan kurang lebih 10 meter, sungai nampak semakin menyempit dan dasar sungai semakin terlihat, di depan mata terlihat batuan membentuk jeram kecil. Mendekati batuan tersebut, sampan kemudian diparkir di sebelah kanan. satu persatu peserta menuruni sampan. Kang Petrus kemudian berjalan di depan mengarahkan seluruh peserta menyusuri semak-semak pepohonan, berjalan mendaki di jalan tanah menyusuri jalur pejalan kaki yang sudah terbentuk. setelah berjalan kurang lebih 50 m, terdengar gemuruh air terjun… dan benar saja, tak lama dari situ, terlihat tiga buah air terjun yang mengalir diantara lumut hijau. Dua di sebelah kiri, satu di sebelah kanan yang nampak tersembunyi. Dua air terjun yang paling kiri mengalir ke dalam satu kolam yang sama, sementara air terjun yang berada di sebelah kanan, mempunyai kolam yang terpisah dari dua yang lain.

Yang berada paling kiri adalah yang terbesar, buih berwarna putih nampak angkuh mengalir melewati barisan lumut yang tumbuh di kanan-kirinya. Sementara yang berada di tengah hanya seperti aliran air yang mengalir lambat diantara lumut-lumut yang tumbuh di tebing curam. Diantara kedua air terjun tersebut, nampak ranting-ranting pohon yang tumbuh dari balik tebing. Di dinding air terjun tersebut terlihat lumut berwarna hijau muda, yang tumbuh di batuan cadas berwarna coklat muda. Sementara air terjun yang berada disebelah kanan, nampak berdiri sendiri diantara rimbunnya pepohonan. Dipisahkan sekitar 5 meter dari air terjun yang di tengah.

Selama sekitar 1 jam para backpackers ini berada di curug cikaso, selama itu yang dilakukan hanya bermain air dan berfoto-foto sambil mengagumi keindahan air terjun cikaso. Seluruh peserta kemudian bergerak kembali ke sampan. Di atas sampan, perjalanan menjadi berbeda, karena kali ini awan sudah membiru.. sangat cerah, walau tadi pagi sempat hujan rintik-rintk. Sesampai di tempat pemberangkatan, aktivitas warga nampak terlihat, ada yang sedang mengangkut karung-karung putih dari sampan ke daratan (entah berisi apa). Kami sempat heboh ketika melihat seorang ibu yang membenamkan badannya ke dalam sungai hingga sedada, kira-kira apakah yang sedang dilakukannya??

Meninggalkan curug cikaso sekitar jam 7an, di sepanjang jalan disuguhi pemandangan pegunungan khas daerah sukabumi. Kami sempat melewati SMA 1 Cikaso, sebelum akhirnya harus belok kiri di sebuah pertigaan menuju ke arah Surade. Di perjalanan sempat melihat Bus AC berwarna biru bertuliskan Sukabumi-Surade dan bus ekonomi

MIG, bertuliskan Bogor – Surade. Setelah sarapan bubur di pasar Surade, bus kembali berjalan, kali ini berjalan kembali ke arah cikaso, namun tak lama berjalan, bus berbelok ke kiri melewati sebuah lapangan luas. Di kejauhan nampak terlihat sebuah gedung sekolah Tsanawiyah berisi anak-anak dan sebuah Papan bertuliskan nama sebuah Sekolah Tinggi (gw lupa namanya).

Bus kemudian berjalan menuju jalan tanah, ke arah persawahan. Di mulut jalan tersebut terlihat sebuah kolam dan beberapa bunga teratai di atasnya. Sebuah wc apung nampak di sebelah kanannya, serta sebuah sumur lengkap dengan katrol dan embernya bersebelahan dengan wc tersebut. Karena bis tidak dapat melanjutkan perjalanan (jalan sempit), maka seluruh peserta turun. Trekking membawa kamera, menyusuri jalan yang sejauh mata memandang terlihat sawah menghijau. Jalan semakin lama semakin menurun dan berakhir di sebuah sungai jernih, yang dasar sungainya terlihat seperti terbuat dari batu kali yang terkikis selama ratusan tahun. batu kali – batu kali tersebut nampak flat karena kikisan air sungai. Berjalan mengikuti arus sungai, ke arah kiri… Setelah berjalan sekitar 20 meter, air sungai seperti hilang. kami seperti berada di ujung dunia. Air sungai kecil yang kami telusuri tadi telah jatuh membentuk air terjun yang berdiri di bawah kami.

Sejauh mata memandang nampak pepohonan rindang dan sebuah ngarai dari sungai yang terbentuk dari air sungai tempat kami berdiri. Di kejauhan horison nampak terlihat hijau karena terbentuk dari rimbunnya pepohonan. Hijaunya pepohonan seperti menyatu dengan birunya awan. Kata kang Petus, kami berada di Curug Cigangsa. Kang Petus dan Mas Aris nampak terlihat kecil ketika berjalan menyusuri pematang sawah, mengambil foto dari arah bawah. Jika melihat hasil rekaman lensa mas aris, air terjun Cigangsa nampak mengalir deras di antara batuan-batuan hitam. air terjun secara perlahan melewati batuan yang berbentuk undakan, berlapis-lapis.

Matahari mulai meninggi, seluruh peserta kembali ke bus. Kali ini perjalanan melewati kembali pasar surade dan terus bergerak ke arah barat menuju ujung genteng. Sebelum sampai di ujung genteng, bis berbelok ke kiri mampir ke Hotel Amanda Ratu. di sebelah kanan nampak pondok-pondok penduduk beratap rumbia berdinding kayu berdiri diantara perkebunan pohon kelapa. Setelah sampai di lingkungan hotel, terlihat samudera Hindia terbentang luas membiru. Di kejauhan nampak perbukitan yang ditumbuhi perkebunan kelapa. Tak jauh dari bibir pantai yang berkarang, nampak sebuah karang besar berdiri kokoh menantang ombak. Di sebelah kiri nampak muara Sungai Cikaso mengalir jernih bergabung dengan samudera hindia. Ketika berdiri di salah satu karang, terasa seperti berada di Nusa Dua, Bali. Sesekali ombak menerpa tebing karang, membentuk loncatan air hingga setinggi 2 meter. Di bagian bawah karang terlihat cekungan karang, membentuk goa (seperti di karang bolong) entah sudah berapa puluh tahun karang tersebut terkikis derasnya ombak samudra hindia.

Matahari kian terasa terik, setelah hunting foto, perjalanan dilanjutkan dengan mendatangi pondok-pondok di dekat pintu masuk hotel. Pondok tersebut ternyata adalah tempat pembuatan gula merah / gula jawa. Di dalam salah satu pondok terlihat sebuah wajan besar yang berisi cairan yang berasap mengeluarkan aroma gula. Di bawah wajan tersebut terdapat lubang yang sengaja digali untuk meletakkan kayu bakar. Menurut pemilik pondok, proses pembuatan gula berlangsung selama sehari penuh. Setelah air nira dikumpulkan, kemudian direbus di atas wajan selama sehari penuh, hingga kadar air berkurang. setelah itu dituang ke dalam cetakan bambu. Ada bambu yang berdiameter sekitar 10 cm ada pula yang bediameter skitar 15cm. Beberapa peserta rombongan membeli oleh-oleh gula merah di sini, gula yang berdiameter kecil dijual seharga 10.000 rupiah / 3 pcs. Sementara yang besar seharga 20 rb / 3 pcs. Kami sempat juga mencoba manisnya air nira yang dituang ke dalam satu gelas.

Setelah minum kelapa (mungkin bisa dibilang kelapa ABG karena terlalu muda). Perjalanan dilanjutkan kembali, kali ini menuju tempat bermalam. Setelah berjalan kembali ke arah barat bis berhenti di persimpangan jalan. Ada 2 orang duduk di tengah jalan, dengan sebuah drum besar di antaranya. di atas drum tersebut nampak sebuah kotak. Sementara di drum tersandar papan bertuliskan : Retribusi Menuju Ujung Genteng. Dibedakan antara mobil, bus dan motor, tapi saya lupa berapa kami harus membayar. Bus kemudian membelok ke arah tulisan Pondok Hexa. Berjalan di jalan tanah dan berbatu bergelombang. Sekiitar 1 km perjalanan tanah, di depan vila ujang bis berhenti. Dan puluhan tukang ojeg duduk di atas sepeda motor mengerubungi bis yang kami tumpangi.

Setelah negosiasi berlangsung, setiap orang kemudian dengan membawa tas menaiki ojek pilihan masing-masing. ada RX king, ada Honda bebek dan aneka motor laennya. Dalam perjalanan, sang ojek bilang kalo dahulu semuanya motor adalah RX King, sama seperti biasa di tempat2 terpencil di Indonesia, namun beberpa waktu lalu sempat ada razia Polisi, dan RX king itu pun disita Polisi.. berakhir sudah dominasi RX king. Perjalanan selama sekitar 15 menit menuju tempat menginap, terasa mengasikan, perjalanan serasa melakukan off road. 30 ojek berjalan beriringan di sepanjang bibir pantai berpasir putih.

Sampai di rumah penginepan di cibuaya, di meja makan sudah tersedia nasi + sayur asem + ikan asin + sambel. sedapppp….. beberapa orang langsung antri mandi, sementara yang lain langsung tertidur dengan pulasnya.

Jam 3 sore, karena sudah terpuaskan tidurnya… beberapa orang bermain air di pantai depan rumah, sementara yang lain hanya duduk-duduk di serambi rumah menikmati angin pantai yang bertiup sepoi-sepoi, sambil melihat beberapa orang nelayan memancing ikan. Pukul 16.00 puluhan ojek sudah menunggu lagi di depan rumah. kali ini perjalanan menuju ke pantai Cipanarikan. Perjalanan ke pantai Cipanarikan terasa lebih mengasikkan lagi, karena berjalan di jalanan lumpur sesekali bertemu dengan puluhan ekor sapi dan kambing. Sesampai di pantai cipanarikan, terlihat padang pasir membentang luas. Pasir putih terasa sangat lembut ditapaki, di beberapa tempat nampak jejak-jejak sebesar sekitar setengah meter membentuk seperti bekas roda traktor. namun melihat arah gerakannya, sepertinya ini adalah jejak penyu. matahari kian meredup, tenggelam tertutupi awan. sebelum kembali ke penginapan, sudah tersedia kelapa muda untuk dinikmati.

Acara malam dimulai dengan makan malam dengan ikan bakar yang nikmat, dilanjutkan dengan berbincang-bincang dan perkenalan antar seluruh peserta. tak lama berselang, seorang penduduk datang, beliau mengabarkan bahwa sudah ada penyu yang naik ke pantai. Rombongan ojek kemudian didatangkan lagi. kali ini tujuannya ke pantai Pengumbahan. Di area konservasi terdapat sebuah kolam yang dipagari bambu berisi puluhan tukik berukuran sekitar 10 cm.

Senter dimatikan sambil menuggu penyu menggali lubang, duduk-duduk di tepi pantai dengan cahaya temaram berasal dari cahaya bulan yang bersinar separuh lingkaran. Setelah diberi tanda oleh petugas, rombongan segera menghampiri induk penyu berukuran karapas sepanjang 1 meter berdiameter setengah meter, penyu tersebut mengeluarkan telur berukuran sebesar bola pingpong sebanyak seratusan butir.

Setelah puas menyaksikan penyu berelur, kembali ke penginapan dengan ojek, dilanjutkan dengan tidur pulas di serambi rumah. hujan turun cukup deras saat itu. bangun pagi-pagi melihat air laut surut, setelah mandi berjalan ke arah laut, melihat ikan-ikan kecil terperangkap diantara karang. setelah hunting foto sebentar. Dilanjutkan dengan sarapan dengan nasi goreng. Lalu trekking ke tempat bus parkir, lalu dengan bus mengunjungi pasar ikan ujung genteng dan ke cagar alam.

Di pasar ikan ini pasir pantai berwarna hitam, sama seperti di pelabuhan ratu. berjalan menyusuri cagar alam, sempat menemui beberapa ekor biawak dan tupai, serta seseorang tuna wisma yang tertidur di bawah bangunan kosong. di ujung jalan cagar alam, pantai nampak tenang, di sini air menggenangi pantai tak berombak semata kaki. ikan-ikan kecil banyak yang berenang-renang di dalamnya. hujan turun dengan lebat disini, payung – payung dibuka, jas hujan dikenakan…

Selesai dari cagar alam, kembali ke penginapan dilanjutkan dengan makan siang yang kembali dengan sayur asem. setelah mandi dan packing, kami akhirnya harus pulang. Diperjalanan sempat berhenti sebentar untuk melihat teluk pelabuhan ratu dari ketinggian, namun sayang tempat yang indah tersebut harus di”hias” dengan aroma sampah yang menyengat, karena dipakai sebagai TPS. well akhirnya harus kembali ke tempat masing-masing… beraktifitas untuk kemudian menabung untuk trip berikutnya….

Iklan

Tentang Arif

just me.. :)
Pos ini dipublikasikan di Cerita Jalan-jalan dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s