Begini Rasanya Sakit DBD dan Hepatitis A

Akhir Januari 2015, pertama kalinya dalam sejarah dirawat di RS karena DBD + Hepatitis A. Ceritanya berawal dari tanggal 18 Januari 2015, saat itu sepulang dari beli bubur ayam di Maruya, badan terasa drop, hasilnya alergi kambuh dan sukses bikin bersin – bersin berkepanjangan dan ingus meler sepanjang hari. Malamnya saya langsung minum obat flu langganan dan alhamdulillah agak berkurang.

Tanggal 19 Januari 2015 badan masih terasa gak nyaman, tapi masih bisa dibawa kerja dengan nyaman. Selasa tanggal 20 Januari 2015 badan terasa pegal-pegal sekujur tubuh, tapi masih enak buat kerja.

Hari Rabu tanggal 21 Januari 2015, dapet kabar kalau bis jemputan gak berangkat, jadi hanya bisa anter pulang. Akhirnya saya putuskan untuk bawa kendaraan ke kantor. Jam 9 Pagi diminta ikut seminar mengenai Cat berbahan dasar air yang digunakan sebagai bahan dasar untuk mengecat PUNA sehingga membuat Puna anti radar. Jam 10 pagi mulai terasa meriang, badan mulai terasa gak enak dan agak demam, lidah mulai terasa pahit, menyebabkan Ayam goreng kremes yang biasanya jadi favorit, gak habis dimakan siang itu.

Selepas jam istirahat, saya sempatkan untuk pergi ke klinik kantor, untuk sekedar dicek sama dokter jaga. Hasil pengecekan, tensi (120/80) dan temperatur badan (37.2) masih normal, cuma dikasih Vitamin dan obat flu. Saat itu perut belum terasa sakit, dan saya juga ceritakan awal mula sakit saat flu berat di hari minggu. Malam harinya badan saya menggigil seperti kedinginan, terutama ketika kena wudhu. Suhu badan saya cek dengan menggunakan temp digital, menunjukkan 38.4 derajat celcius, sudah mulai demam.

Kamis 22 Januari 2015, saya dapat tugas untuk dinas di Kantor pusat BPPT di Thamrin. Badan terasa lebih enak dipagi hari. Jadi saya putuskan untuk bawa kendaraan di kantor. Untuk menghindari 3in1, mobil saya parkir di kantor istri di Jalan Soedirman, selanjutnya saya naik transjakarta menuju BPPT. Saat rapat di ruang AC, badan sudah mulai terasa gak enak. pegal-pegal seluruh tubuh. Beruntung rapat selesai jam 12 siang. Selepas makan siang dan Sholat Dzuhur, saya putuskan untuk tidur siang di Mesjid BPPT.

Jam 2 siang, setelah tidur siang, badan sudah terasa lebih enak, walau masih terasa pegal. Saya berangkat ke kantor istri dan melanjutkan tidur siang di mobil. Pulang dari Kantor istri selepas maghrib, badan terasa demam lagi dan perut mulai terasa mual. Saya putuskan untuk ke dokter. Saat dilakukan pengecekan, suhu badan sudah 39.3 derajat celcius. Sudah positif demam, namun karena baru hari kedua, dokter belum bisa memutuskan penyebab demamnya. Cuma dikasih obat penurun panas, pencegah nyeri dan obat mual plus surat dokter untuk istirahat di rumah selama 1 hari.

Sepulang dari Rumah sakit, makan malam dan langsung minum obat. Sedihnya, ternyata saya alergi sama obat pencegah nyerinya. Mata langsung memar dan sesak nafas. Hasilnya malam itu disamping demam, saya juga diserang alergi, mengakibatkan saya tak bisa tidur hingga jam 2 pagi, saat pengaruh obat hilang. Untuk menghilangkan sesak nafasnya saat itu saya minum obat Profilas, alhamdulillah bisa meredakan efek sesak nafas akibat alergi.

Jumat, 23 Januari 2015 badan sudah tidak demam, namun perut terasa mual tiap kali makan. kepala juga terasa pusing dan sakit sekali seperti migrain. hari itu saya hanya minum obat penurun panas dan vitaminnya saja. Malam sabtu, badan kembali terasa demam, namun cenderung turun setelah saya minum obat penurun panas. Mual juga makin menjadi. Saya berkali-kali muntah saat malam, perut juga mulai terasa sakitnya, terutama dibagian ulu hati.

sgptsgot trombosit

Sabtu, 24 Januari 2015 demam sepanjang hari, hanya turun setelah minum obat penurun panas. Sakit dibagian ulu hati juga semakin menjadi disertai mual hingga mengakibatkan muntah beberapa kali.

Minggu, 25 Januari 2015. saya putuskan untuk ke UGD. saat dicek darah, dilakukan pengecekan trombosit dan typus. Hasilnya typus negatif, namun trombositnya hanya 127.000, dibawah standard yang seharusnya antara 150.000 – 500.000. Dokter UGD langsung memutuskan untuk dirawat. Saat itu juga dipasang infus dan resmilah saya diopname di RS Bhakti Asih, Ciledug. Selama hari minggu, tidak diberi obat sama sekali, hanya selang infus yang menempel di tangan kanan mengalirkan elektrolit.

Senin, 26 Januari 2015, Pagi-pagi dilakukan cek darah, untuk mengecek trombosit plus sgpt dan sgot, karena saya mengeluh sakit di ulu hati dan berulang kali muntah. Hasilnya, trombosit turun jadi 124.000, Sgpt/sgot 1900/1200 (standardnya dibawah 40). Inilah yang menyebabkan uluhati saya sakit sekali seperti ditonjok. Sore hari, bu dokter langsung memerintahkan untuk cek darah tiap hari, untuk cek darah hari selasa diminta untuk cek juga HBSAg untuk mengecek kemungkinan hepatitis A.

Selasa, 27 Januari 2015, selain cek darah, juga dilakukan USG organ pencernaan untuk melihat kondisi hati. badan masih agak demam, namun sakit kepala sudah berkurang. Mual masih terasa, hasil cek trombosit pada pengecekan pagi hari berjumlah 66.000 turun drastis dari sebelumnya 124.000. Saat visit, dokter melarang saya untuk bangun dari tempat tidur, untuk pipis harus lewat pispot.

Rabu, 28 Januari 2015, sepanjang hari sudah tidak demam, suhu badan stabil di 37 derajat celcius. Namun hasil pengecekan trombosit malah anjlok lagi jadi 24.000 saat pagi dan 20.000 saat sore. SGPT/SGOT juga turun hampir 50% menjadi 1.100/512. Namun mualnya sudah jauh berkurang, sehingga saya bisa makan lebih banyak dari hari sebelumnya. Saya juga dapat minum sari kurma lebih banyak dan dipaksa minum angkak oleh istri. Karena trombosit hanya 20.000, susterpun memasang satu infusan lagi. Saya lupa namanya, yang saya ingat warnanya kuning.

20150128_111859

Infusan cabang 2, untuk akomodasi 2 botol infusan karena trombosit sudah dibawah 50.000

Kamis, 29 Januari 2015, alhamdulillah hasil pengecekan trombosit naik jadi 39.000 saat pagi dan 67.000 saat sore. Namun hal ini membuat saya lengah, karena nafsu makan saya gak sebaik sebelumnya, karena merasa trombosit akan naik terus.

Jumat, 30 Januari 2015, saat pagi hari trombosit saya turun lagi menjadi 46.000. hal ini membuat saya semangat lagi untuk banyak minum dan memaksa untuk makan banyak. alhamdulillah trombosit saat sore menjadi 90.000.  SGPT/SGOT juga turun terus menjadi 656/180.

Sabtu, 31 Januari 2015, setelah ambil darah pada pagi hari, entah mengapa darah saya diambil lagi pada siang harinya. Ternyata petugas lab kaget karena trombosit saya ternyata sudah 233.000. Awalnya dia mengira kalau hasilnya keliru karena peningkatan trombosit yang sangat signifikan. Siang hari, infusan sudah dikurangi lagi menjadi hanya elektrolit saja. badan juga sudah lebih enak. apalagi setelah dokter menyatakan kalau besok sudah boleh pulang.

Minggu, 1 Februari 2015, hasil cek SGPT/SGOT sudah jauh berkurang menjadi 330/180. Dokter sudah  memberi lampu hijau untuk pulang, namun masih memberikan saya surat dokter untuk bedrest di rumah untuk menyembuhkan hepatitisnya.

Senin, 10 Februari 2015, setelah melanjutkan bedrest total di rumah selama seminggu, alhamdulillah SGPT/SGOT saya sudah turun menjadi 77/20, sehingga sudah dinyatakan sembuh oleh Dokter, namun tetap diminta menjaga makanan. harus mengurangi makan lemak, terutama gorengan. Serta tidak boleh terlalu lelah. Obat vitamin untuk hati juga tetap harus dikonsumsi, setiap setelah makan hingga 10 hari kedepan berupa lesichol-300.

Tips sembuh dari DBD:

  1. Banyak minum, banyak makan yang bergizi. (pada dasarnya kalau hanya kena DBD, tidak ada pantangan untuk makan apapun, akan ada pantangan jika ada penyakit ikutan seperti Thypus atau Hepatitis kaya saya kemarin)
  2. Jangan banyak bergerak, jadi harus bedrest total supaya trombosit tidak semakin drop. Selama di rawat kemarin, hari pertama dan kedua saya masih buang air ke kamar mandi, sehingga trombosit turun drastis dari 124.000 ke 66.000. Jadi sholat dan pipis akhirnya tetap di kasur. Duduk hanya untuk makan, itupun dengan bantuan kasur lipat.
  3. Obat – obat tradisional seperti sari kurma, jus jambu merah, angkak, dll mungkin berguna jika hanya sakit DBD. namun jika ada hepatitis A seperti saya kemarin, agak sulit. karena jika minum jamu, khawatir akan memperburuk livernya.

Tips untuk Hepatitis A:

  1. Bedrest total
  2. Banyak minum, supaya warna air seni tidak menjadi coklat
  3. Saat sakit kemarin, saya minum temu lawak (dalam bentuk kapsul) dan lesichol-300 untuk menurunkan SGPT dan SGOTnya.

Tangerang, 16 Februari 2015

Iklan

Tentang Arif

just me.. :)
Pos ini dipublikasikan di Berbagi, Cerita hidup ku, Pengetahuan dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Begini Rasanya Sakit DBD dan Hepatitis A

  1. Beny berkata:

    Wah luarbiasa mas… Sakit tp masih detail mengingat hasil lab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s