Istiqomah Sholat Malam

Khutbah Jumat di Mesjid Al Muhandis, Serpong jumat tgl 29 Agustus 2014 tadi berisi tentang Istiqomah. Dibacakan bunyi surat Hud ayat 112 : “Istiqomahlah kamu sebagaimana engkau telah diperintahkan”. Amalan baik harus tetap dijalankan agar kita tidak kehilangan momentum. Seperti hukum Newton di Fisika, benda yang bergerak akan cenderung tetap bergerak, demikian juga benda diam, akan cenderung tetap diam. Ketika sebuah bola berpantul, akan terus memantul dan untuk menggerakkannya juga lebih mudah dibanding ketika benda itu dalam keadaan diam.

Demikian juga amalan sholeh, saat di Bulan Ramadhan kemarin kita mendapatkan momentum untuk melaksanakan amal-amal kebajikan yang cukup banyak : Sholat Malam, banyak infak, banyak tadarus, dll. Setelah Ramadhan habis, banyak dari kita kehilangan momentum tersebut atau tidak melaksanakan amalan-amalan baik tadi secara berkelanjutan, sehingga akhirnya berhenti.

Khotib bercerita bahwa di Jaman Rasulullah, para sahabat diperintahkan untuk shalat malam bahkan mengisi 2/3 malam untuk ibadah kepada Allah. Perintah ini dilaksakanan oleh para sahabat dengan istiqamah selama lebih dari 11 bulan, sebelum akhirnya turun ayat yang mengubah shalat tahajud menjadi amalan sunah. Jadi para sahabat nabi dahulu kala melaksanakan shalat malam selama 2/3 malam atau lebih dari 6 jam karena menjalankan Surat Al Muzzammil ayat 1-7: “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu´) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak).”

Kebiasaan shalat malam itu seperti pembinaan mental, membuat para sahabat memiliki karakter yang sangat sulit ditandingi saat ini. Kita ingat bagaimana keikhlasan para sahabat anshar yang menyerahkan sebagian besar hartanya kepada kaum muhajirin, atau ada kisah dimana seorang sahabat menerima tamu dan memberikan roti terakhir yang dimilikinya dan mengajak tamu tersebut untuk makan dalam gelap.

Khotib juga menceritakan tentang Sahabat Abdurahman bin Auf yang merasa sedih karena hartanya yang terlalu banyak. Pikirannya hanya tercurah ke Akhirat, ketika beramal kemudian mendapat balasan dari Allah berkali-kali lipat, Abdurahman bin Auf merasa sedih, karena khawatir balasan di akhirat nanti akan dikurangi. Khotib juga menceritakan soal bagaimana Umar bin Khatab yang menghukum dirinya sendiri karena masbuk sholat berjamaah.

Tangerang Selatan, 29 Agustus 2014

Iklan

Tentang Arif

just me.. :)
Pos ini dipublikasikan di Berbagi, Religious dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s